Berupa benteng (tembok tinggi) yang mengelilingi kompleks keraton, namun wilayahnya lebih sempit dari baluwarti (lihat: Baluwarti). Bentuk bangunan cepuri secara umum berupa empat persegi panjang, cenderung tidak beraturan (tidak simetris).
Saat ini beberapa bagian sudah tidak utuh lagi namun masih dapat ditemukan bekas-bekas reruntuhannya.
Cepuri diperkirakan dibangun sebelum baluwarti, sebagai bangun-bangunan pelapis dalam
dari lingkungan Keraton Mataram.
Bahan bangunan yang digunakan untuk membangun Cepuri terdiri atas pasangan batu bata dengan ukuran 8 cm x 16 cm x 30 cm, dan dari bahan batu putih dengan ukuran antara 7 cm x 16 cm x 30 cm sampai dengan ukuran 12 cm x 22 cm x 43 cm. Keterangan ini didukung oleh tulisan dalam Babad Tanah Jawi, yang menye-butkan:
….. dipun angge banon abrit lan banon pethak
….. nunten dados kutha bacingah
….. kanthi sinengkalan 1507
(Olthof, 1941:108), yang artinya:
….. digunakan bata merah dan bata putih
…..selanjutnya menjadi benteng
…..dengan (petunjuk) tahun1507
….. (Olthof, 1941:108). Keberadaan bangunan cepuri dapat dilihat dari artefak berupa bekas
bekas bangunan benteng namun juga dapat diperoleh dari Babad Tanah Jawi, yang menyebutkan:
….. Kacariyos Kanjeng Sultan Pajang miyos sinewaka
….. Para Bupati sami matur: ”Putra Dalem Senapati ing Alaga, saestu mirong badhe mengsah
….. sampun damel beteng sarta lelaren wiyar”
(Olthof, 1941:80), yang artinya:
….. Suatu saat ketika Sultan Pajang sedang duduk di atas singgasana (dihadapan Bupati dan Abdi Dalem)
….. Para Bupati menyatakan (lapor): “Ananda (anak Sultan Pajang) Senapati ing Alaga, benar-benar akan melakukan pemberontakan
…..(Dia-Senapati Ing Alaga), telah membangun benteng yang dikelilingi oleh parit (jagang)
yang cukup lebar.
Dari tulisan tersebut, terlihat adanya pemahaman atas fungsi cepuri sebagai benteng pertahanan yang dikelilingi dengan jagang (lihat: Jagang) yang berupa parit yang lebar, sehingga dapat menghambat musuh untuk mendekati benteng.
Denah cepuri secara umum adalah persegi panjang yang membujur timur–barat, dan pada sudut tenggara melengkung sehingga oleh penduduk disebut dengan bokong semar (lihat: Bokong Semar). Luas seluruhnya sekitar 6,5 Ha dan sebagian besar temboknya masih tersisa. Sementara itu, di bagian tengah sisi utara terdapat struktur benteng yang oleh penduduk dipercaya pernah dijebol oleh Pangeran Rangga, putera Panembahan Senapati.
Struktur ini kemudian dikenal dengan “benteng jebolan Raden Rangga” (lihat: Benteng Jebolan Raden Rangga).
Fungsi utama bangunan ini adalah untuk melindungi bagian keraton, sehingga benteng ini juga disebut dengan tembok jero.
Berdasarkan sisa peninggalan dan analogi dengan tata letak bangunan di lingkungan keraton pada umumnya, cepuri juga memiliki beberapa komponen bangunan penting. Beberapa bangunan yang semula ada di dalam cepuri berdasarkan analogi tersebut antara lain adalah: Sitinggil (Sitihinggil), Mandhungan (Kamandhungan), Sri Manganti, Kedhaton, Prabayaksa (yang dilengkapi dengan beberapa bangsal seperti Bangsal Kencana, bangsal Kemuning, bangsal Manis, dan Gedong Kemuning).
Monday, June 7, 2010
Celenan, Jalan
Merupakan jalan kampung, dengan gerbang masuk dari Jalan Mondorakan dekat pegadaian
swasta ke arah selatan, menuju buk ndhekem (lihat: Buk Ndhekem) dan Karangduren. Jalan ini mempunyai nilai khusus, karena pada waktu yang lalu termasuk jalan dengan kualitas terbaik di wilayah sekitar itu, sehingga sering disebut sebagai dalan alus, karena kondisi jalannya yang mulus sampai saat ini.
swasta ke arah selatan, menuju buk ndhekem (lihat: Buk Ndhekem) dan Karangduren. Jalan ini mempunyai nilai khusus, karena pada waktu yang lalu termasuk jalan dengan kualitas terbaik di wilayah sekitar itu, sehingga sering disebut sebagai dalan alus, karena kondisi jalannya yang mulus sampai saat ini.
Cao Mentah, Minuman
Jenis minuman khas Kotagede, tetapi kini sudah tidak dapat dijumpai lagi. Minuman dengan rasa segar ini dibuat dari bahan-bahan; cao, kolang-kaling, kelapa muda, air, dan sirup atau (dahulu menggunakan tetes tebu) sebagai pemanis. Hal ini berkaitan dengan kondisi pada masa dahulu di Kotagede pernah ada pabrik gula, sehingga mudah cara mendapatkan
tetes tebu tersebut.
Cara membuatnya: sirup dilarutkan dalam air dicampur kolang-kaling yang telah diiris kecil-kecil, degan (kelapa muda) yang di ambil (dikeruk) isi (daging) nya, kadangkala ditambah dengan nanas dan jeruk nipis.
Cara penyajiannya,dengan dituang ke dalam gelas dan diminum sebagai minuman
yang segar.
tetes tebu tersebut.
Cara membuatnya: sirup dilarutkan dalam air dicampur kolang-kaling yang telah diiris kecil-kecil, degan (kelapa muda) yang di ambil (dikeruk) isi (daging) nya, kadangkala ditambah dengan nanas dan jeruk nipis.
Cara penyajiannya,dengan dituang ke dalam gelas dan diminum sebagai minuman
yang segar.
Sunday, June 6, 2010
Bulan Sabit Muncul dari Balik Pohon Beringin, Karya Penelitian
Judul buku yang ditulis oleh Mitsuo Nakamura, berupa penelitian tentang Kotagede. Buku ini juga diterbitkan dalam versi bahasa Inggris dengan judul The Crescent Arises over the Banyan Tree. Buku yang diterbitkan oleh Gajah Mada University Press-Yogyakarta tahun 1983 sebanyak 263 halaman, ditulis dalam enam bab, umumnya mengungkapkan tentang muncul dan berkembangnya Muhammadiyah di Kotagede, dilengkapi pula dengan peta pulau Jawa, Yogyakarta dan Kotagede. Selain itu, diagram yang menggambarkan hubungan
kekeluargaan dan perkawinan antara pendiri Muhammadiyah di Kotagede dicantumkan pula
dalam buku ini. Lampiran berupa Tanah Bangunan Kotagede (1922), pekerjaan, pendapatan,dan komposisi pekerjaan (1972) disajikan pada bagian akhir buku ini.
Mitsuo Nakamura menjelaskan pula bahwa Kotagede memiliki berbagai keuntungan untuk penelitian perkembangan Muhamadiyah setempat. Secara etnis Kotagede merupakan kota Jawa yang murni, terletak di jantung peradaban Jawa. Kotagede muncul dalam sejarah
pertama kali pada pertengahan kedua abad ke–16 sebagai lokasi awal Keraton Mataram yang belakangan, salah satu kerajaan Islam paling awal di pedalaman Jawa tengah bagian selatan.
Keraton Mataram saat itu juga mewujudkan sinkretisasi halus unsur-unsur asli, Hindu–Budha, dan agama Islam dalam kehidupan Keratonnya.
Kedudukan Keraton Mataram berpindah keluar dari Kotagede pada awal abad ke-17. Kerajaan itu sendiri kemudian dipecah-pecah dan dipotong menjadi empat kerajaan
(Surakarta, Yogyakarta, Mangkunegaran, dan Pakualaman) karena intrik internal berkepanjangan dan campur tangan Belanda selama dua abad berikutnya. Tetapi Kotagede
bertahan dari semua kekacauan ini. Tetap mempertahankan identitasnya sebagai pusat kota
Jawa yang khusus sampai saat ini, sebagian besar karena segi agama dan ekonominya.
Selanjutnya Nakamura menambahkan, perkembangan yang menuju pada berdirinya Muhammadiyah di Kotagede terjadi pada saat dan lingkungan ini. Muhammadiyah
di Kotagede sejak saat itu berkembang pesat sampai sekarang.
Prestasi Muhammadiyah yang paling menonjol dapat dilihat pada bidang pendidikan, umum, dan kesejahteraan sosial (1972). Muhammadiyah telah memprakarsai banyak perubahan di dalam kepercayaan dan praktik keagamaan di kalangan orang Kotagede.
Di samping prestasi lokal, Muhammadiyah Kotagede memberikan sejumlah sumbangan bagi kemajuan kepentingan Islam dalam tingkat regional dan bahkan nasional. Di banyak daerah kepulauan Indonesia sekolah-sekolah Muhammadiyah atau sekolah-sekolah
Islam lainnya memperoleh sejumlah guru yang berasal dari kalangan Muhammadiyah Kotagede.
Sejumlah besar orang yang ahli termasuk dokter, insinyur, sarjana hukum, profesor dan dosen banyak di antaranya berasal dari keluarga Muhammadiyah Kotagede.
Muhammadiyah cabang Kotagede adalah salah satu yang paling aktif dan berpengaruh di dalam organisasi yang pusatnya terletak di Yogyakarta, yang memberikan bantuan langsung pada saat yang diperlukan.
Mitsuo Nakamura menerangkan tentang judul bukunya, yang ber-hubungan dengan konsep abangan dan santri. Proses Islamisasi di Kotagede sekarang ini hendaknya tidak dipandang melulu sebagai masalah perubahan di dalam orientasi ideologis golongan tertentu masyarakat setempat, yakni dari tradisionalisme ke modernisme di dalam golongan santri, tetapi lebih berupa masalah yang ada hubungannya dengan pandangan agama
seluruh penduduk setempat: makin bertambah besar orang-orang didalam kategori abangan telah berpindah dan sedang berpindah kearah kategori santri, menjadi semakin
benar di dalam berpikir dan beramal sebagai orang Islam. Karena itu, judul asli buku ini, “The Crescent Arises over the Banyan Tree” artinya unsur-unsur santri yang digambarkan dengan bulan sabit semakin muncul dari unsur-unsur abangan yang digambarkan
dengan pohon beringin, sebuah simbol mistik. Judul ini dimaksudkan hanya sebagai ringkasan jelas proses sejarah setempat tanpa mempunyai implikasi politik yang
mungkin timbul di kalangan orang-orang tertentu.
kekeluargaan dan perkawinan antara pendiri Muhammadiyah di Kotagede dicantumkan pula
dalam buku ini. Lampiran berupa Tanah Bangunan Kotagede (1922), pekerjaan, pendapatan,dan komposisi pekerjaan (1972) disajikan pada bagian akhir buku ini.
Mitsuo Nakamura menjelaskan pula bahwa Kotagede memiliki berbagai keuntungan untuk penelitian perkembangan Muhamadiyah setempat. Secara etnis Kotagede merupakan kota Jawa yang murni, terletak di jantung peradaban Jawa. Kotagede muncul dalam sejarah
pertama kali pada pertengahan kedua abad ke–16 sebagai lokasi awal Keraton Mataram yang belakangan, salah satu kerajaan Islam paling awal di pedalaman Jawa tengah bagian selatan.
Keraton Mataram saat itu juga mewujudkan sinkretisasi halus unsur-unsur asli, Hindu–Budha, dan agama Islam dalam kehidupan Keratonnya.
Kedudukan Keraton Mataram berpindah keluar dari Kotagede pada awal abad ke-17. Kerajaan itu sendiri kemudian dipecah-pecah dan dipotong menjadi empat kerajaan
(Surakarta, Yogyakarta, Mangkunegaran, dan Pakualaman) karena intrik internal berkepanjangan dan campur tangan Belanda selama dua abad berikutnya. Tetapi Kotagede
bertahan dari semua kekacauan ini. Tetap mempertahankan identitasnya sebagai pusat kota
Jawa yang khusus sampai saat ini, sebagian besar karena segi agama dan ekonominya.
Selanjutnya Nakamura menambahkan, perkembangan yang menuju pada berdirinya Muhammadiyah di Kotagede terjadi pada saat dan lingkungan ini. Muhammadiyah
di Kotagede sejak saat itu berkembang pesat sampai sekarang.
Prestasi Muhammadiyah yang paling menonjol dapat dilihat pada bidang pendidikan, umum, dan kesejahteraan sosial (1972). Muhammadiyah telah memprakarsai banyak perubahan di dalam kepercayaan dan praktik keagamaan di kalangan orang Kotagede.
Di samping prestasi lokal, Muhammadiyah Kotagede memberikan sejumlah sumbangan bagi kemajuan kepentingan Islam dalam tingkat regional dan bahkan nasional. Di banyak daerah kepulauan Indonesia sekolah-sekolah Muhammadiyah atau sekolah-sekolah
Islam lainnya memperoleh sejumlah guru yang berasal dari kalangan Muhammadiyah Kotagede.
Sejumlah besar orang yang ahli termasuk dokter, insinyur, sarjana hukum, profesor dan dosen banyak di antaranya berasal dari keluarga Muhammadiyah Kotagede.
Muhammadiyah cabang Kotagede adalah salah satu yang paling aktif dan berpengaruh di dalam organisasi yang pusatnya terletak di Yogyakarta, yang memberikan bantuan langsung pada saat yang diperlukan.
Mitsuo Nakamura menerangkan tentang judul bukunya, yang ber-hubungan dengan konsep abangan dan santri. Proses Islamisasi di Kotagede sekarang ini hendaknya tidak dipandang melulu sebagai masalah perubahan di dalam orientasi ideologis golongan tertentu masyarakat setempat, yakni dari tradisionalisme ke modernisme di dalam golongan santri, tetapi lebih berupa masalah yang ada hubungannya dengan pandangan agama
seluruh penduduk setempat: makin bertambah besar orang-orang didalam kategori abangan telah berpindah dan sedang berpindah kearah kategori santri, menjadi semakin
benar di dalam berpikir dan beramal sebagai orang Islam. Karena itu, judul asli buku ini, “The Crescent Arises over the Banyan Tree” artinya unsur-unsur santri yang digambarkan dengan bulan sabit semakin muncul dari unsur-unsur abangan yang digambarkan
dengan pohon beringin, sebuah simbol mistik. Judul ini dimaksudkan hanya sebagai ringkasan jelas proses sejarah setempat tanpa mempunyai implikasi politik yang
mungkin timbul di kalangan orang-orang tertentu.
Anduk, Gendhing
Gendhing sebagai pengiring Bedhaya Semang, yang diciptakan secara khusus oleh Sultan Agung, sebagai penghormatan kepada Panembahan Senapati, raja pendahulu di Keraton Mataram.
Bedhaya Semang merupakan jenis tarian yang mengkisahkan percintaan
antara Panembahan Senapati dengan Kanjeng Ratu Kidul. Sehingga sebagai pengiring, Gendhing Anduk dimainkan sekali dalam setahun, pada saat jumenengan dalem (penobatan raja), atau wiyosan dalem (ulang tahun
raja).
Syair lagunya sarat berisi kata-kata cinta dan asmara, diawali dengan irama kendhangan Sekar Gadhung, dan selanjutnya diikuti dengan ditabuhnya gong, kenong, kemanak, dan ketipung.
Bedhaya Semang merupakan jenis tarian yang mengkisahkan percintaan
antara Panembahan Senapati dengan Kanjeng Ratu Kidul. Sehingga sebagai pengiring, Gendhing Anduk dimainkan sekali dalam setahun, pada saat jumenengan dalem (penobatan raja), atau wiyosan dalem (ulang tahun
raja).
Syair lagunya sarat berisi kata-kata cinta dan asmara, diawali dengan irama kendhangan Sekar Gadhung, dan selanjutnya diikuti dengan ditabuhnya gong, kenong, kemanak, dan ketipung.
AMM, Team Tadarus
Singkatan dari Team Tadarus Angkatan Muda Mesjid dan Mushalla.
AMM. Mempunyai misi membina dan mengembangkan Gerakan Dakwah Al Quran yang meliputi Membaca, Menulis dan Memahami Al Quran (M3A) bagi seluruh umat Islam dimanapun berada, dengan membawa misi inilah kegiatan-kegiatan Team Tadarus AMM dilaksanakan.
Yayasan Team Tadarus AMM beralamat di Kompleks TKA-TPA AMM Selakraman Kotagede
Yogyakarta.
Di samping itu tentu ada misi-misi khusus dari kegiatan yang dilaksanakan Gerakan Dakwah M3A, meliputi kegiatan rutin, seperti: pengelolaan TKA-TPA-TQA, kursus Tartil Al Quran, kursus bahasa Arab metode fasih, majelis ta’lim malam kamis, forum studi ‘Ulumul Quran’, penataran metodologi Iqra’ dan manajemen TKA-TPA-TQA, serta tempat studi banding para pengelola, ustadz dan santri TKA-TPA-TQA di seluruh Indonesia.
Melalui berbagai aktivitas keagamaan tersebut, menjadikannya berkembang menjadi forum rekreasi rohani (wisata religius).
AMM. Mempunyai misi membina dan mengembangkan Gerakan Dakwah Al Quran yang meliputi Membaca, Menulis dan Memahami Al Quran (M3A) bagi seluruh umat Islam dimanapun berada, dengan membawa misi inilah kegiatan-kegiatan Team Tadarus AMM dilaksanakan.
Yayasan Team Tadarus AMM beralamat di Kompleks TKA-TPA AMM Selakraman Kotagede
Yogyakarta.
Di samping itu tentu ada misi-misi khusus dari kegiatan yang dilaksanakan Gerakan Dakwah M3A, meliputi kegiatan rutin, seperti: pengelolaan TKA-TPA-TQA, kursus Tartil Al Quran, kursus bahasa Arab metode fasih, majelis ta’lim malam kamis, forum studi ‘Ulumul Quran’, penataran metodologi Iqra’ dan manajemen TKA-TPA-TQA, serta tempat studi banding para pengelola, ustadz dan santri TKA-TPA-TQA di seluruh Indonesia.
Melalui berbagai aktivitas keagamaan tersebut, menjadikannya berkembang menjadi forum rekreasi rohani (wisata religius).
Agung, Sultan
Merupakan Raja Besar Mataram yang terkenal akan ekspansi wilayah kekuasaan, sehingga mencapai beberapa wilayah diluar pulau Jawa.
Sultan Agung adalah salah satu putra Panembahan Senapati (lihat Senapati, Panembahan). Sultan Agung disebut demikian karena merupakan raja besar Mataram. Sultan Agung dengan nama lengkap Sultan Agung Anyakrakusuma menjadi Raja Mataram, ia adalah
cucu buyut Ki Ageng Giring (penguasa Gunung Kidul, lihat : Giring, Ki Ageng). Ki Ageng Giring, adalah sahabat Ki Ageng Mataram (lihat: Mataram, Ki Ageng).Putera Ki Ageng Mataram bernama Panembahan Senapati, memperisteri Rara Lembayung, puteri
dari Ki Ageng Giring. Dari pasangan suami istri inilah lahir anak, cucu Ki Ageng Giring, yang kelak naik tahta dan bergelar Sultan Agung Anyakrakusuma.
Pada masa kekuasaannya, Mataram mampu memperluas pengaruhnya dan mengalami puncak kejayaannya, meski mengalami kegagalan saat menyerbu Belanda di Batavia yang saat itu dipimpin oleh Gubernur Jenderal Jaan Pieterszoon Coen.
Banyak prestasi yang dicapai oleh Sultan Agung. Dalam bidang politik dia menerapkan sentralitas kekuasaan dan mewajibkan para bupati-nayaka untuk tinggal di kutha-negara,
serta memodifikasi sistem birokrasi pemerintahan yang canggih dengan membagi-bagi lebih
lanjut wilayah negaragung.
Sultan Agung juga mengembangkan budaya agraris dengan menyusun pranata mangsa yang digunakan untuk memperhitungkan waktu tanam. Selain itu dia juga menetapkan sistem kalender Jawa yang meramu penanggalan Çaka lama dengan tahun Hijriyah dari
Arab. Untuk yang terakhir ini menunjukkan perhatiannya pada upaya memadukan agama Islam dengan budaya asli Jawa yang banyak dipertentangkan sebelumnya.
Terlepas dari kebesarannya, Sultan Agung lebih banyak menghabiskan waktunya di pesanggrahan Kerta, dan kemudian memindahkan pusat kekuasaannya dari Kotagede
ke Plered. Artinya, pada masa Sultan Agung eksistensi Kotagede mulai surut.
Namun, sekalipun Kotagede kehilangan peran sebagai pusat pemerintahan, Pasar Gede di Kotagede tetap menjadi pusat perdagangan yang penting, bahkan sampai sekarang. Di sisi lain, dia juga tetap memelihara spiritualitas Kotagede yang berpusat di kompleks Mesjid Mataram dan makam raja-raja di Kotagede, walaupun dia menyiapkan juga kompleks
makam baru di Imogiri.
Melalui berbagai prestasi di dalam mengembangkan kekuasaannya ni membuat Keraton Mataram, di bawah kepemimpinan Sultan Agung mencapai zaman keemasannya. Hal ini ditunjukkan dengan berkembangnya wilayah kekuasaan sampai ke luar Jawa, di antaranya
sampai ke wilayah Sumatera (Palembang).
Sultan Agung adalah salah satu putra Panembahan Senapati (lihat Senapati, Panembahan). Sultan Agung disebut demikian karena merupakan raja besar Mataram. Sultan Agung dengan nama lengkap Sultan Agung Anyakrakusuma menjadi Raja Mataram, ia adalah
cucu buyut Ki Ageng Giring (penguasa Gunung Kidul, lihat : Giring, Ki Ageng). Ki Ageng Giring, adalah sahabat Ki Ageng Mataram (lihat: Mataram, Ki Ageng).Putera Ki Ageng Mataram bernama Panembahan Senapati, memperisteri Rara Lembayung, puteri
dari Ki Ageng Giring. Dari pasangan suami istri inilah lahir anak, cucu Ki Ageng Giring, yang kelak naik tahta dan bergelar Sultan Agung Anyakrakusuma.
Pada masa kekuasaannya, Mataram mampu memperluas pengaruhnya dan mengalami puncak kejayaannya, meski mengalami kegagalan saat menyerbu Belanda di Batavia yang saat itu dipimpin oleh Gubernur Jenderal Jaan Pieterszoon Coen.
Banyak prestasi yang dicapai oleh Sultan Agung. Dalam bidang politik dia menerapkan sentralitas kekuasaan dan mewajibkan para bupati-nayaka untuk tinggal di kutha-negara,
serta memodifikasi sistem birokrasi pemerintahan yang canggih dengan membagi-bagi lebih
lanjut wilayah negaragung.
Sultan Agung juga mengembangkan budaya agraris dengan menyusun pranata mangsa yang digunakan untuk memperhitungkan waktu tanam. Selain itu dia juga menetapkan sistem kalender Jawa yang meramu penanggalan Çaka lama dengan tahun Hijriyah dari
Arab. Untuk yang terakhir ini menunjukkan perhatiannya pada upaya memadukan agama Islam dengan budaya asli Jawa yang banyak dipertentangkan sebelumnya.
Terlepas dari kebesarannya, Sultan Agung lebih banyak menghabiskan waktunya di pesanggrahan Kerta, dan kemudian memindahkan pusat kekuasaannya dari Kotagede
ke Plered. Artinya, pada masa Sultan Agung eksistensi Kotagede mulai surut.
Namun, sekalipun Kotagede kehilangan peran sebagai pusat pemerintahan, Pasar Gede di Kotagede tetap menjadi pusat perdagangan yang penting, bahkan sampai sekarang. Di sisi lain, dia juga tetap memelihara spiritualitas Kotagede yang berpusat di kompleks Mesjid Mataram dan makam raja-raja di Kotagede, walaupun dia menyiapkan juga kompleks
makam baru di Imogiri.
Melalui berbagai prestasi di dalam mengembangkan kekuasaannya ni membuat Keraton Mataram, di bawah kepemimpinan Sultan Agung mencapai zaman keemasannya. Hal ini ditunjukkan dengan berkembangnya wilayah kekuasaan sampai ke luar Jawa, di antaranya
sampai ke wilayah Sumatera (Palembang).
Saturday, January 9, 2010
Jenang Suran/ Bubur Suran
dari beras nasi diberi warna-warni. Sekarang sudah jarang sekali. Merupakan ungkapan rasa sukur atas pergantian tahun.
Sendang Salirang
ada yang mengatakan sendang salira. Salira berarti badan, membersihkan badan. Jaman dahulu sendang salirang digunakan untuk keluarga raja, kemudian para abdi dalem, akhirnya untuk rakyat biasa.
Selirang bisa diartikan pasangan sisir pisang bagian atas dan bawah (satu sisir hanya bagian atas atau bawah saja, setangkep adalah pasangan kanan kiri)
Atau dapat diartikan Sendang Selira (badan), untuk memandikan/ membersihkan badan (bersuci). Pada waktu itu selain untuk mandi & cuci, juga utk mengambil air wudhu (mandi dulu, baru masuk masjid).
Selirang bisa diartikan pasangan sisir pisang bagian atas dan bawah (satu sisir hanya bagian atas atau bawah saja, setangkep adalah pasangan kanan kiri)
Atau dapat diartikan Sendang Selira (badan), untuk memandikan/ membersihkan badan (bersuci). Pada waktu itu selain untuk mandi & cuci, juga utk mengambil air wudhu (mandi dulu, baru masuk masjid).
Nyewu dino
akhir proses peringatan meninggalnya salah satu keluarga, tanah sudah mapan, dengan pemasangan nisan (kijing) pada makam almarhum. Kijing adalah tetenger penghormatan makam leluhur. Kebiasaan nenek moyang yang dikemas sebagai budaya. Untuk mengingat keteladanan & keberadaan pendahulunya. Ilmu budi pekerti berkembang berawal keteladanan nenek moyang.
Subscribe to:
Posts (Atom)