Seorang tokoh raksasa dari bala-tentara Batari Durga yang tinggal di hutan Krendhayana. Suatu ketika, ia diberi tugas untuk mengembalikan Sudanu (kerbau) yang berjumlah
40 ekor. Seluruhnya berwarna hitam dengan kaki berwarna putih. Dhadung Awuk pernah menolak Sang Bima saat akan meminjam kerbau tersebut, namun setelah terjadi perkelahian dan Dhadhungawuk dapat dikalahkan oleh Sang Bima. Ia menyerahkan kerbau-kerbau tersebut, bahkan ia sendirilah yang menjadi pawangnya.
Setelah terlebih dahulu meminta ijin kepada Batari Durga. Dhadhungawuk merupakan salah
satu tokoh dalam kesenian Srandhul.
Di Kotagede seni ini pernah menjadi kegemaran masyarakat, tetapi kini sudah tidak pernah dipentaskan lagi.
Showing posts with label * seni. Show all posts
Showing posts with label * seni. Show all posts
Sunday, June 13, 2010
Delabo
Singkatan dari Pandeyan, Dolahan, dan Boharen. Delabo adalah nama kelompok kesenian macapat dari Kotagede yang merupakan gabungan dari ketiga kampung tersebut.
Monday, June 7, 2010
Cermo Supardi Mujihartono, Ki Dhalang
Adalah salah satu dhalang wayang thingklung dari Kotagede. Dia lebih akrab dipanggil Kang
Mujiran.
Pertama kali pentas pada sekitar tahun 1989, di saat peresmian pembangunan Kampung Karang-duren (Kotagede). Kang Mujiran mengaku bukan perintis wayang thingklung. Namun kepeduliannya untuk melestarikan wayang thingklung, menjadikannya tokoh pelestari
seni-budaya dari Kotagede.
Pada tahun 1960-an di Kampung Semoyan ia melihat pertunjukan wayang thingklung dan dhalangnya sudah tua, nama Ki Dhalang yang mementaskan sudah tidak dapat diingatnya lagi. Ketika itu, berawal dari hobinya mengoleksi wayang-wayang kulit tersebut, timbulah niatnya untuk mencoba dan belajar mendalami seluk beluk dunia pewayangan. Hobi
mengkoleksi wayang yang diperoleh dengan membeli di Pasar Legi Kotagede dari bahan kerdus (karton). Kini koleksi wayang kulitnya sudah komplit satu kothak, berkat ketekunannya menabung sedikit demi sedikit, hanya untuk mewujudkan impiannya memiliki
koleksi wayang yang lengkap.
Pengalaman pentas Ki Cermo Supardi Mujihartono, alias Kang Mujiran sudah cukup banyak, walaupun masih sebatas seputar kampungnya, antara lain di Karang-duren,
Mrican, Semoyan, Pondhongan, Ndalem, Alun-alun Kotagede, Sayangan, dan Pura Pakualaman.
Saat ini, Kang Mujiran hidup menetap di tempat kelahirannya, Kampung Karangduren
Kotagede.
Mujiran.
Pertama kali pentas pada sekitar tahun 1989, di saat peresmian pembangunan Kampung Karang-duren (Kotagede). Kang Mujiran mengaku bukan perintis wayang thingklung. Namun kepeduliannya untuk melestarikan wayang thingklung, menjadikannya tokoh pelestari
seni-budaya dari Kotagede.
Pada tahun 1960-an di Kampung Semoyan ia melihat pertunjukan wayang thingklung dan dhalangnya sudah tua, nama Ki Dhalang yang mementaskan sudah tidak dapat diingatnya lagi. Ketika itu, berawal dari hobinya mengoleksi wayang-wayang kulit tersebut, timbulah niatnya untuk mencoba dan belajar mendalami seluk beluk dunia pewayangan. Hobi
mengkoleksi wayang yang diperoleh dengan membeli di Pasar Legi Kotagede dari bahan kerdus (karton). Kini koleksi wayang kulitnya sudah komplit satu kothak, berkat ketekunannya menabung sedikit demi sedikit, hanya untuk mewujudkan impiannya memiliki
koleksi wayang yang lengkap.
Pengalaman pentas Ki Cermo Supardi Mujihartono, alias Kang Mujiran sudah cukup banyak, walaupun masih sebatas seputar kampungnya, antara lain di Karang-duren,
Mrican, Semoyan, Pondhongan, Ndalem, Alun-alun Kotagede, Sayangan, dan Pura Pakualaman.
Saat ini, Kang Mujiran hidup menetap di tempat kelahirannya, Kampung Karangduren
Kotagede.
Sunday, June 6, 2010
Anduk, Gendhing
Gendhing sebagai pengiring Bedhaya Semang, yang diciptakan secara khusus oleh Sultan Agung, sebagai penghormatan kepada Panembahan Senapati, raja pendahulu di Keraton Mataram.
Bedhaya Semang merupakan jenis tarian yang mengkisahkan percintaan
antara Panembahan Senapati dengan Kanjeng Ratu Kidul. Sehingga sebagai pengiring, Gendhing Anduk dimainkan sekali dalam setahun, pada saat jumenengan dalem (penobatan raja), atau wiyosan dalem (ulang tahun
raja).
Syair lagunya sarat berisi kata-kata cinta dan asmara, diawali dengan irama kendhangan Sekar Gadhung, dan selanjutnya diikuti dengan ditabuhnya gong, kenong, kemanak, dan ketipung.
Bedhaya Semang merupakan jenis tarian yang mengkisahkan percintaan
antara Panembahan Senapati dengan Kanjeng Ratu Kidul. Sehingga sebagai pengiring, Gendhing Anduk dimainkan sekali dalam setahun, pada saat jumenengan dalem (penobatan raja), atau wiyosan dalem (ulang tahun
raja).
Syair lagunya sarat berisi kata-kata cinta dan asmara, diawali dengan irama kendhangan Sekar Gadhung, dan selanjutnya diikuti dengan ditabuhnya gong, kenong, kemanak, dan ketipung.
Saturday, January 9, 2010
Kroncong, musik
berkembang eksis lama di Kotagede. Sebagai perkawinan antara budaya Betawi (tanjidor), Portugis, Hawai, dikembangkan di Jawa menjadi musik Kroncong.
Srandul
kesenian teater tradisi semacam ketoprak namun berskala kecil. Dimainkan oleh beberapa orang saja dengan menggunakan 6-7 instrumen musik gamelan. Kesenian ini merupakan teater berjalan/ teater keliling. Tema cerita dari kesenian Srandul adalah legenda kehidupan kerajaan dan bangsawan, berikut romantika percintaan dan intrik-intrik perebutan kekuasaan. Sebagai area bekas peninggalan kerajaan Mataram Islam adalah wajar apabila tema-tema seperti ini merupakan idola masyarakat. Kesederhanaan dari kesenian ini dilatar belakangi oleh keterbatasan kemampuan keuangan masyarakat yang ingin melakukan kegiatan kreatif
Wayang Thinglung
pergelaran wayang kulit sederhana, dimana iringan musik dan penyanyinya diperagakan oleh satu orang, baik sebagai dalang yang memeragakan adegan cerita wayang, sekaligus mengiringi iringan musik gamelan dengan suara mulut maupun memerankan diri sebagai sinden/niyaga (penyanyi). Awalnya wayang yang digunakan berbahan dari kertas karton, tetapi sekarang ada yang memakai wayang kulit. Tokoh-tokoh ceritanya memakai tokoh-tokoh pada kisah wayang kulit purwa. Dalang wayang thinglung dituntut memiliki keahlian ganda, yaitu keahlian memerankan tokoh wayang dan keahlian menirukan bunyi gamelan pengiring pertunjukan. Pertunjukan wayang ini cukup unik, kadang-kadang bagi orang awam yang belum pernah melihat sebelumnya, melihat dalang yang memainkannya memberi sebutan kelakar seperti orang gila. Kesenian wayang Tinglung dilatar belakangi oleh keterbatasan kemampuan keuangan masyarakat yang ingin menanggap kesenian wayang dengan biaya murah untuk mengisi acara hajatan baik mantu, supitan maupun hajatan syukuran lainnya
Siteran
kesenian musik lagu Jawa, menggunakan alat musik tunggal bersenar bernama siter dimainkan oleh satu orang yang sekaligus berperan sebagai penyanyi. Kadang-kadang pemain siter didampingi oleh seorang sinden (penyanyi putri). Dalam perkembangannya kesenian siter ini dilengkapi dengan alat musik yang lain seperti gender, rebab, dan gong membentuk grup karawitan kecil bernama cokekan. Volume perangkat musik cokekan sekitar seperempat pangkon (seperempat gamelan) bahkan ada yang hanya beberapa bagian saja dari komponen gamelan yang bisa mewakili irama gamelan. Cokekan dimainkan oleh sekitar 4 – 5 orang yang dinyanyikan oleh seorang sinden atau lebih
Selawatan
didendangkan oleh abdi Dalem Mataram secara turun temurun melalui seniman-seniman abdi Dalem Parentah Yogya dan Solo. Salawatan tersebut kemudian dimainkan oleh satu dalang abdi dalem s/d sekitar 1950 karena dalangnya meninggal kesenian ini punah. Sekitar tahun 1980 kes salawatan di munculkan (dipaketkan) lagi oleh grup bernama ”Paguyuban Salawatan Ngako-et Kawula Mataram”, mengadobsi, mendatangi seniman-seniman dulu yang masih bisa diajak bicara, menelusur alatnya apa, dan berlatih sampai sekarang. Saat ini salawatan berkembang di Kotagede, ada kelompok selawatan dari kaum perempuan di kampung Bumen Kelurahan Purbayan Kec Kotagede. Salawatan adalah membacakan pelajaran tentang Islam (keimanan) dengan bertembang/ bernyanyi bahasa Jawa, untuk memudahkan masyarakat menerima pelajaran memaknai arti hidup menurut ajaran Islam melalui bahasa Jawa.
Ketoprak
teater tradisional bertemakan cerita seputar babad/ sejarah dan kehidupan Kraton/Kerajaan, raja, bangsawan dan intrik-intriknya serta romantika kehidupan dan legendanya, melibatkan banyak pemain lebih dari 20 orang tergantung ceritanya dan melibatkan banyak waranggana, diiringi oleh sekitar 24 s/d 26 instrument musik gamelan lengkap slendro-pelog, lengkap dengan dekorasi panggung yang natural.
Di Kotagede ketoprak biasanya diselenggarakan oleh Demang yang karena jabatan kekuasaannya mempunyai tingkat ekonomi yang cukup sehingga mampu membiayai penyelenggaraan ketoprak. Sebagai kawasan bekas kerajaan Mataram masyarakat mempunyai apresiasi dan kebanggaan terhadap tokoh-tokoh pendirinya sehingga wajar apabila kesenian teater yang tumbuh disana bertemakan seputar kehidupan kerajaan.
Pada awalnya cerita Ketoprak lebih banyak menyangkut seputar kehidupan Kraton maupun kaum bangsawan disertai intrik, konflik, percintaan, affair dan legenda kehidupannya. Dalam perjalanannya Ketoprak menceritakan juga tentang legenda kerakyatan. Ketoprak Mataram merupakan salah satu perkumpulan ketoprak pimpinan Ki Tjokrodjio yang disiarkan RRI Studio Yogyakarta secara tetap-berkala sekitar tahun 1960-1968-an.
Ketoprak Tobong berkembang di pedesaan, dikenal karena bangunannya menggunakan yang menggunakan bahan dan konstruksi sederhana. Tobong adalah bangunan kerakyatan non permanen dengan bentang sedang sampai besar, untuk fungsi yang bersifat masal; bahan kerangka, dinding dan atap bangunannya terbuat dari bahan local sederhana (bambu, gedeg, batu bata, ijuk/genteng vlam), dengan system struktur dan ikatan buhul sederhana (ikatan tali ijuk, pasak bamboo). Fungsi Tobong disamping untuk sarana pentas ketoprak juga mempunyai fungsi lain seperti: tempat pembakaran /penyimpanan bata maupun genteng tanah liat, serta penyimpanan dan pengeringan tembakau dll.
Di Kotagede ketoprak biasanya diselenggarakan oleh Demang yang karena jabatan kekuasaannya mempunyai tingkat ekonomi yang cukup sehingga mampu membiayai penyelenggaraan ketoprak. Sebagai kawasan bekas kerajaan Mataram masyarakat mempunyai apresiasi dan kebanggaan terhadap tokoh-tokoh pendirinya sehingga wajar apabila kesenian teater yang tumbuh disana bertemakan seputar kehidupan kerajaan.
Pada awalnya cerita Ketoprak lebih banyak menyangkut seputar kehidupan Kraton maupun kaum bangsawan disertai intrik, konflik, percintaan, affair dan legenda kehidupannya. Dalam perjalanannya Ketoprak menceritakan juga tentang legenda kerakyatan. Ketoprak Mataram merupakan salah satu perkumpulan ketoprak pimpinan Ki Tjokrodjio yang disiarkan RRI Studio Yogyakarta secara tetap-berkala sekitar tahun 1960-1968-an.
Ketoprak Tobong berkembang di pedesaan, dikenal karena bangunannya menggunakan yang menggunakan bahan dan konstruksi sederhana. Tobong adalah bangunan kerakyatan non permanen dengan bentang sedang sampai besar, untuk fungsi yang bersifat masal; bahan kerangka, dinding dan atap bangunannya terbuat dari bahan local sederhana (bambu, gedeg, batu bata, ijuk/genteng vlam), dengan system struktur dan ikatan buhul sederhana (ikatan tali ijuk, pasak bamboo). Fungsi Tobong disamping untuk sarana pentas ketoprak juga mempunyai fungsi lain seperti: tempat pembakaran /penyimpanan bata maupun genteng tanah liat, serta penyimpanan dan pengeringan tembakau dll.
Cokekan
kesenian musik gamelan/karawitan dalam skala kecil dengan alat musik gender, rebab, dan gong. Jumlah perangkat musik cokekan sekitar seperempat pangkon (seperempat gamelan) bahkan ada yang hanya beberapa bagian saja dari komponen gamelan yang bisa mewakili irama gamelan. Cokekan dimainkan oleh sekitar 4 – 5 orang yang dinyanyikan oleh seorang sinden atau lebih. Kesenian cokekan dilatar belakangi oleh keterbatasan kemampuan keuangan masyarakat yang menginginkan kesenian musik karawitan (gamelan) dengan biaya murah untuk mengisi acara hajatan baik mantu, supitan maupun hajatan syukuran lainnya.
Monday, June 8, 2009
Umpak
Umum menyebutnya sebagai umpak, yaitu landasan untuk bertumpunya tiang, pada zaman dulu terbuat dari batu alam yang bewarna hitam dank eras. Umpak merupakan satu-satunya ragam hias berupa padma dalam arsitektur bangunan yang diukir dengan pahatan. Salah satu yang menjadi ciri khas yang menarik bagi Keraton Mataram, adalah ukuran Umpaknya yang terbesar yang terdapat di pendhapa di bandingkan ukuran Umpak pada bangunan-bangunan keraton di Yogyakarta. Umpak pada Pendhapa Keraton Mataram pada zaman Kerta berukuran 100x100 cm di bagian bawah, dan bagian atas 75x75 cm, dengan tinggi 75 cm.
Saturday, June 6, 2009
Brambangan
Bentuk kesenian tradisional rakyat berbentuk teater dengan tema Panji yang berasal dari Babad Segaluh, yang sudah termasuk langka dipargelarkan. Penari dalam kesenian ini berjumlah 20 orang, mengenakan kostum wayang orang. Tokoh utamanya adalah Dewi Brambangan yang mengenakan kostum warna merah dan Raden panji Sekar. Alat musik yang menjadi pengiringadalah Gamelan Jawa laras slendro, dimana para penabuhnya menggunakan pakaian beskapan Jaw. Ban biasanya dipentaskan di pendapa dengan waktu pentas adalah malam hari, antara jam 20.00-22.30.
Tema cerita utamanya adalah tentang Raja Banjaransari di Galuh,dengan fragmen cerita antara lain tentang pertikaian antara Jaka Sesuruh dan Siyungwanara. Selain itu terdapat fragmen cerita lain tentang Inu Kertapati (PrabuSuryawisesa) dan permaisurinya Retna Galuh (Dewi Galuh Candrakirana).
Tema cerita utamanya adalah tentang Raja Banjaransari di Galuh,dengan fragmen cerita antara lain tentang pertikaian antara Jaka Sesuruh dan Siyungwanara. Selain itu terdapat fragmen cerita lain tentang Inu Kertapati (PrabuSuryawisesa) dan permaisurinya Retna Galuh (Dewi Galuh Candrakirana).
Friday, June 5, 2009
Bedhaya Ketawang, Tari
Disebut juga Bedaya Semang. Terdapat dua versi proses penciptaannya, pertama: tarian ini diciptakan pada masa Sulan Agung setelah melakukan laku ritual semedi. Dalam keheningan cipta, rasa, dan karsa itu, sang raja mendengar suara tetembangan dari arah tawang (langit-Red). Dia begitu terkesima dan tak mampu menyembunyikan keterpesonaannya.
Begitu selesai bersemedi, empat orang pengiringnya dia panggil. Bergegaslah Kanjeng Panembahan Purboyo, Kyai Panjang Mas, Pangeran Karang Gayam II, dan Tumenggung Alap-alap mendekati sang raja. Sultan Agung mewedarkan hasil kesaksian batinnya pada mereka. Lalu, terciptalah sebuah tarian yang diberi nama Bedhaya Ketawang. Bedhaya dari kata ambedhaya (menari) dan ketawang dari tawang.
Versi kedua, tarian sakral itu lebih merujuk pada pendahulu Sultan Agung. Tarian itu dianggap sebagai cerita mengenai percintaan Panembahan Senapati ing Alaga Sayiddin Panatagama (Raja pertama Mataram) dengan Kanjeng Ratu Kidul. Bahkan, pada akhirnya muncul mitos: penguasa Laut Selatan itu selalu datang pada saat Bedhaya Ketawang digelar di keraton Kasultanan Yogyakarta atau di Kasunanan Surakarta.
Benar-tidaknya mitos itu, seperti halnya versi manakah yang benar mengenai latar penciptaan Bedhaya Ketawang, yang pasti tarian itu memiliki makna sebagai simbol kehidupan di makroksmos dan mikrokosmos. Sembilan penari yang memeragakan Bedhaya Ketawang itu sangat simbolis, juga filosofis. Dalam alam makrokosmos, sembilan penari dapat diejawantahkan sebagai delapan mata angin dan satu pancer (pusat). Bisa pula itu simbol dari isi semesta, yakni bulan, bintang, matahari, langit, bumi, api, air, angin, dan makhluk hidup.
Ada pun pengejawantahan mikrokosmos terungkap melalui posisi penari yang memberikan makna mengenai tubuh yang sempurna. Sembilan penari yang ada berada dalam posisi dengan nama yang berbeda. Pertama, posisi Batak menyimbolkan pikiran dan jiwa, Endhel Ajeg (keinginan hati atau nafsu), Gulu dan Dad (badan), Apit Ngarep (lengan kanan), Apit Mburi (lengan kiri), Apit Meneng (tungkai kiri), Endhel Weton (tungkai kanan), dan Buncit (organ seksual).Batak dengan Endhel Ajeg gerakannya kadang-kadang bertentangan, tetapi kadangkala menyatu. Itu merupakan cerminan pikiran dengan keinginan hati yang bisa bertentangan, tetapi bisa pula menyatu, teknis sekali, tapi sangat filosofis.
Ada penafsiran lain yang menyebut sembilan penari sebagai simbol lubang di tubuh manusia. Secara filososfis, lubang-lubang itu ditafsirkan sebagai sumber hawa nafsu. Maka istilah yang lazim dikenal adalah babahan hawa sanga. yakni dua lubang hidung, dua lubang mata, dua lubang telinga, satu lubang mulut, satu lubang alat kelamin, dan satu lubang anus. Di luar penafsiran-penafsiran itu yang pasti hingga kini Bedhaya Ketawang itu masih disakralkan, bahkan ia dianggap sebagai pusaka keprabon bagi kerajaan Mataram dan sempalannya. Dia tidak bisa pula digelar di sembarang tempat dan waktu. Hanya dipergelarkan saat Jumenengan Dalem raja anak-keturunan Panembahan Senapati.
Begitu selesai bersemedi, empat orang pengiringnya dia panggil. Bergegaslah Kanjeng Panembahan Purboyo, Kyai Panjang Mas, Pangeran Karang Gayam II, dan Tumenggung Alap-alap mendekati sang raja. Sultan Agung mewedarkan hasil kesaksian batinnya pada mereka. Lalu, terciptalah sebuah tarian yang diberi nama Bedhaya Ketawang. Bedhaya dari kata ambedhaya (menari) dan ketawang dari tawang.
Versi kedua, tarian sakral itu lebih merujuk pada pendahulu Sultan Agung. Tarian itu dianggap sebagai cerita mengenai percintaan Panembahan Senapati ing Alaga Sayiddin Panatagama (Raja pertama Mataram) dengan Kanjeng Ratu Kidul. Bahkan, pada akhirnya muncul mitos: penguasa Laut Selatan itu selalu datang pada saat Bedhaya Ketawang digelar di keraton Kasultanan Yogyakarta atau di Kasunanan Surakarta.
Benar-tidaknya mitos itu, seperti halnya versi manakah yang benar mengenai latar penciptaan Bedhaya Ketawang, yang pasti tarian itu memiliki makna sebagai simbol kehidupan di makroksmos dan mikrokosmos. Sembilan penari yang memeragakan Bedhaya Ketawang itu sangat simbolis, juga filosofis. Dalam alam makrokosmos, sembilan penari dapat diejawantahkan sebagai delapan mata angin dan satu pancer (pusat). Bisa pula itu simbol dari isi semesta, yakni bulan, bintang, matahari, langit, bumi, api, air, angin, dan makhluk hidup.
Ada pun pengejawantahan mikrokosmos terungkap melalui posisi penari yang memberikan makna mengenai tubuh yang sempurna. Sembilan penari yang ada berada dalam posisi dengan nama yang berbeda. Pertama, posisi Batak menyimbolkan pikiran dan jiwa, Endhel Ajeg (keinginan hati atau nafsu), Gulu dan Dad (badan), Apit Ngarep (lengan kanan), Apit Mburi (lengan kiri), Apit Meneng (tungkai kiri), Endhel Weton (tungkai kanan), dan Buncit (organ seksual).Batak dengan Endhel Ajeg gerakannya kadang-kadang bertentangan, tetapi kadangkala menyatu. Itu merupakan cerminan pikiran dengan keinginan hati yang bisa bertentangan, tetapi bisa pula menyatu, teknis sekali, tapi sangat filosofis.
Ada penafsiran lain yang menyebut sembilan penari sebagai simbol lubang di tubuh manusia. Secara filososfis, lubang-lubang itu ditafsirkan sebagai sumber hawa nafsu. Maka istilah yang lazim dikenal adalah babahan hawa sanga. yakni dua lubang hidung, dua lubang mata, dua lubang telinga, satu lubang mulut, satu lubang alat kelamin, dan satu lubang anus. Di luar penafsiran-penafsiran itu yang pasti hingga kini Bedhaya Ketawang itu masih disakralkan, bahkan ia dianggap sebagai pusaka keprabon bagi kerajaan Mataram dan sempalannya. Dia tidak bisa pula digelar di sembarang tempat dan waktu. Hanya dipergelarkan saat Jumenengan Dalem raja anak-keturunan Panembahan Senapati.
Bayu Mataram, Kethoprak
Di Kotagede terdapat beberapa perkumpulan kethoprak, adalah seni drama tradisional yang masih banyak disukai oleh masyarakat Jawa. Drama seni ini biasanya mengambil cerita tentang kisah-kisah raja-raja Jawa yang diambil dari babad dan legenda.
Bayu Mataram adalah salah satu grup kethoprak di Kotagede, di samping Purbacarita, dan Setia Budaya. Grup seni tradisional ini bertujuan untuk melestarikan dan berkreasi. Salah satu tema cerita yang dipentaskan adalah legenda Senapati, ketika sedang merintis Keraton Mataram. Busana yang dipakai bisa macam-macam tergantung dari cerita yang diambil, misalnya: busana Jawa, Timur Tengah dan penjajah Belanda.
Sebagai pelengkap, kesenian ini menggunakan instrumen gamelan, yang terdiri dari; gong, ketuk, kempul, saron peking, saron, boning, kendang, dan ketipung kempyang. Instrumen musik tersebut dalam kelompok kethoprak tertentu juga ditambah dengan lesung. Irama amelan yang khas dalam seni kethoprak adalah suara kethuk yang terdengar lebih dominan memukulnya. Seni dipertunjukkan yang dipentaskan pada saat peringatan hari raya, merti desa dan orang yang mempunyai hajat.
Bayu Mataram adalah salah satu grup kethoprak di Kotagede, di samping Purbacarita, dan Setia Budaya. Grup seni tradisional ini bertujuan untuk melestarikan dan berkreasi. Salah satu tema cerita yang dipentaskan adalah legenda Senapati, ketika sedang merintis Keraton Mataram. Busana yang dipakai bisa macam-macam tergantung dari cerita yang diambil, misalnya: busana Jawa, Timur Tengah dan penjajah Belanda.
Sebagai pelengkap, kesenian ini menggunakan instrumen gamelan, yang terdiri dari; gong, ketuk, kempul, saron peking, saron, boning, kendang, dan ketipung kempyang. Instrumen musik tersebut dalam kelompok kethoprak tertentu juga ditambah dengan lesung. Irama amelan yang khas dalam seni kethoprak adalah suara kethuk yang terdengar lebih dominan memukulnya. Seni dipertunjukkan yang dipentaskan pada saat peringatan hari raya, merti desa dan orang yang mempunyai hajat.
Bancak-Dhoyok, Tari
Seni pertunjukan, perpaduan antara tarian, nyanyian dan lawakan. Jenis tari-lawakan yang menggambarkan dua orang tokoh punakawan (sebutan untuk inang-pengasuh) dari Raden Panji Inukertapati yang bernama Bancak dan Dhoyok. Kedua penari menggunakan topeng dengan ekspresi yang lucu. Di Jawa Timur tokoh Bancak dikenal dengan nama Penthul dan Dhoyok untuk Tembem. Cerita ini berasal dari Jawa Timur dan berkembang sampai ke daerah Jawa Tengah. Dalam tari ini unsur canda dan tawa menjadi suguhan utama dengan kepandaian olah vokal dan tari pemainnya, untuk menggambarkan kehidupan sehari-hari. Adegan biasanya dimulai dengan keluarnya Bancak yang menceritakan kisah hidupnya, diselingi dengan tarian dan nyanyian. Kemudian kelarlah Dhoyok yang telah lama mencari saudaranya, Bancak. Kemudian mereka dialog sambil menceritakan pengalamannya masing-masing diselingi dengan humor, nyanyi dan tari.
Perlengkapan tari yang dikenakan oleh Bancak berupa, pakai celana panjen, kain Bathik dan blangkon dengan rias mata sipit, berhidung bulat dan berkulit putih. Doyok memakai kain Bathik, celana panjen, blangkon, dengan rias wajah bermata sipit melengkung, berkulit hitam dan hidung pesek. Tarian ini diiringi dengan gamelan lengkap dengan gending Kembang Nangka, Linggarjati dan Srundeng Gosong.
Perlengkapan tari yang dikenakan oleh Bancak berupa, pakai celana panjen, kain Bathik dan blangkon dengan rias mata sipit, berhidung bulat dan berkulit putih. Doyok memakai kain Bathik, celana panjen, blangkon, dengan rias wajah bermata sipit melengkung, berkulit hitam dan hidung pesek. Tarian ini diiringi dengan gamelan lengkap dengan gending Kembang Nangka, Linggarjati dan Srundeng Gosong.
Oncor Mataram, Ongklek
Kelompok seni tradisional yang mengembangkan kesenian ongklek di Kotagede. Seni pertunjukkan ini sepintas mirip dengan angguk dan montro. Dalam pementasan, ongklek lebih banyak menampilkan nyanyian dan gerak tari dengan diiringi alat musik yang disebut terbang (rebana). Cara membunyikannya alat ini dengan dipukul dengan telapak tangan.
Wednesday, May 6, 2009
Wayang Wong
Salah satu jenis drama tari tradisional Jawa, yang disebut juga wayang orang. Pada mulanya merupakan dramatari yang hanya dapat dipentaskan di lingkungan kraton saja. Menurut sejarah, jenis wayang ini diciptakan kembali oleh Sri Sultan Hamengkubuwono I pada akhir tahun 1750-an. Namun pada awal abad 20, seni ini mulai berkembang sebagai seni pertunjukan rakyat, yang biasa dipentaskan di suatu gedung tertentu secara tetap atau secara berkeliling oleh kelompok seni yang dimiliki rakyat. Bahkan pada masa tertentu menjadi lahan bisnis, yang pada masanya pernah mencapai masa keemasan.
Terdapat anggapan bahwa wayang wong merupakan format paling sempurna bagi sebuah pertunjukan opera Jawa. Mengingat didalamnya kita jumpai perpaduan yang harmonis antara drama dengan cerita yang dibawakan dengan dialog prosa Jawa. Tata tari diiringi alunan instrumen gamelan sebagai pengiringnya, yang dilngkapi dengan niyaga (penabuhnya) dan vokalisnya (sinden). Dalam pementasan, terdiri dari banyak adegan yang dibawakan oleh banyak pemain, yang biasanya telah memiliki spesialisasi dalam masing-masing tokohnya.
Setting cerita biasanya diangkat dari legenda Mahabarata atau Ramayana. Biasanya di samping, menari, para pemain juga berbicara dan menyanyi, sesuai dengan adegan yang dilakukannya. Pada mulanya, ketika masih dipertunjukkan di dalam kraton, wayang wong bisa memakan waktu pertunjukan berhari-hari, dari awal erita hingga akhir. Namun dalam perkembangannya, hanya dipertunjukkan dalam beberapa jam saja. Bahkan dalam wayang wong keliling, dalam satu hari bisa lebih dari satu judul pertunjukan yang berbeda.
Terdapat anggapan bahwa wayang wong merupakan format paling sempurna bagi sebuah pertunjukan opera Jawa. Mengingat didalamnya kita jumpai perpaduan yang harmonis antara drama dengan cerita yang dibawakan dengan dialog prosa Jawa. Tata tari diiringi alunan instrumen gamelan sebagai pengiringnya, yang dilngkapi dengan niyaga (penabuhnya) dan vokalisnya (sinden). Dalam pementasan, terdiri dari banyak adegan yang dibawakan oleh banyak pemain, yang biasanya telah memiliki spesialisasi dalam masing-masing tokohnya.
Setting cerita biasanya diangkat dari legenda Mahabarata atau Ramayana. Biasanya di samping, menari, para pemain juga berbicara dan menyanyi, sesuai dengan adegan yang dilakukannya. Pada mulanya, ketika masih dipertunjukkan di dalam kraton, wayang wong bisa memakan waktu pertunjukan berhari-hari, dari awal erita hingga akhir. Namun dalam perkembangannya, hanya dipertunjukkan dalam beberapa jam saja. Bahkan dalam wayang wong keliling, dalam satu hari bisa lebih dari satu judul pertunjukan yang berbeda.
Wayang Thingklung
Merupakan salah satu jenis kesenian wayang kulit yang secara khas masih bertahan di Kotagede. Ciri spesifik wayang thingklung adalah dhalang selain berperan menguasai jalan cerita dan memainkan wayang, juga melantunkan sendiri instrumen pengiring dengan suaranya. Sehingga dalam wayang thingklung tidak ada pengiring apapun, baik waranggana/sindhen maupun instrument gamelan.
Dalang dituntut untuk mampu menirukan suara gamelan pengiring dan menyelaraskan dengan dialog-dialog di setiap lakon yang muncul. Pada awalnya wayang ini menggunakan bahan kardus/karton namun kemudian diganti dengan bahan kulit.
Salah satu dhalang wayang thingklung yang ada di Kotagede bernama Mujiran alias Ki Tjermo Mudjihartono dari Dusun Karangduren. Pada beberapa kesempatan pentas, sering dikenal dengan nama Tjermo SM. Singkatan dari Tjermo Sumedi dan Marijan. Seperangkat wayang kulit yang dimiliki merupakan koleksi pribadi. Lakon-lakon yang sering dibawakannya adalah Babad Alas Martani, dan Antasena Takon Bapa. Keberadaan wayang thingklung ini pada awalnya menjadi salah satu seni pertunjukan yang khas bagi kesenian wayang yang berkembang di Kotagede.
Beberapa dhalang yang lain, adalah Ki Wajiman yang beralamat di Purbayan, dan Ki Parjudi yang beralamat di Gedhongan.
Dalang dituntut untuk mampu menirukan suara gamelan pengiring dan menyelaraskan dengan dialog-dialog di setiap lakon yang muncul. Pada awalnya wayang ini menggunakan bahan kardus/karton namun kemudian diganti dengan bahan kulit.
Salah satu dhalang wayang thingklung yang ada di Kotagede bernama Mujiran alias Ki Tjermo Mudjihartono dari Dusun Karangduren. Pada beberapa kesempatan pentas, sering dikenal dengan nama Tjermo SM. Singkatan dari Tjermo Sumedi dan Marijan. Seperangkat wayang kulit yang dimiliki merupakan koleksi pribadi. Lakon-lakon yang sering dibawakannya adalah Babad Alas Martani, dan Antasena Takon Bapa. Keberadaan wayang thingklung ini pada awalnya menjadi salah satu seni pertunjukan yang khas bagi kesenian wayang yang berkembang di Kotagede.
Beberapa dhalang yang lain, adalah Ki Wajiman yang beralamat di Purbayan, dan Ki Parjudi yang beralamat di Gedhongan.
Qasidah
Bentuk seni musik yang berlatar belakang budaya Islami yang biasanya dibawakan oleh kalangan wanita yang juga berkembang menjadi seni tradisi di Kotagede. Pada mulanya merupakan sajak lirik dengan metrum yang sesuai untuk dinyanyikan atau disenandungkan, baik secara tunggal atau paduan suara, atau yang kemudian berkembang dalam bentuk koor dimana penyanyi tunggal besahut-sahutan dengan paduan suara. Isinya berupa pengagungan terhadap keesaan Allah, kebesaran Rasulnya, ajakan untuk beramal dan berbuat baik, berjihad di jalan Allah serta anjuran untuk menjalankan perintahNya dan menjauhi segala laranganNya.
Sebagai alat musik pengiring biasanya digunakan rebana, yaitu alat musik musik pukul yang berbentuk pipih agar mudah dipegang. Dewasa ini juga menggunakan alat-alat musik yang lebih modern. Jenis genre kasidah yang diiringi alat musik, sering juga disebut musik gambus.
Sebagai alat musik pengiring biasanya digunakan rebana, yaitu alat musik musik pukul yang berbentuk pipih agar mudah dipegang. Dewasa ini juga menggunakan alat-alat musik yang lebih modern. Jenis genre kasidah yang diiringi alat musik, sering juga disebut musik gambus.
Subscribe to:
Posts (Atom)