Showing posts with label * tokoh. Show all posts
Showing posts with label * tokoh. Show all posts

Sunday, June 13, 2010

Chirzin, M. Habib

Seorang tokoh hak azasi manusia, dari Kotagede. Kegigihannya dalam meperjuangkan hak – hak azasi manusia, ditunjukkan dengan kedudukannya sebagai komisioner Komite Nasional Hak Azasi Manusia. Drs.M.Habib Chirzin, juga menjadi tokoh dalam kegiatan dialog keIslaman, dengan menduduki jabatan sebagai President, Islamic Millenium Forum
for Peace and Dialoque. Kedudukannya sebagai pejuang hak azasi manusia, semakin menambah peran tokoh-tokoh Kotagede yang berbicara di forum nasional maupun internasional

Saat ini Drs. M.Habib Chirzin bertempat tinggal di Jl. Kramat IV No 4 Jakarta Pusat.

Chirzin, Muhammad

Seorang tokoh Muhammadiyah Kotagede. Pada zamannya pernah menjabat sebagai sekretaris Masyumi di bawah kepemimpinan Haji Masyhudi. (Lihat: Masyhudi, Haji).

Muhammad Chirzin memberi pengaruh yang besar dalam pengembangan Islam di Kotagede dalam kedudukannya sebagai pimpinan takmir Mesjid Perak pada tahun 1958 selama sepuluh tahun.

Pada tahun 1949 Muhammad Chirzin menggiatkan pengajian menjelang berbuka puasa. Kemudian membentuk majelis lajnah dengan dukungan Pimpinan Cabang Muhammadiyah Kotagede, bersama H. Ridha, dan Zuhri Hasyim, menyeragamkan doa-doa yang sebelumnya bermacam-macam, menjadi bacaan do’a yang sama untuk masyarakat muslim di Kotagede.

Sunday, June 6, 2010

Bulan Sabit Muncul dari Balik Pohon Beringin, Karya Penelitian

Judul buku yang ditulis oleh Mitsuo Nakamura, berupa penelitian tentang Kotagede. Buku ini juga diterbitkan dalam versi bahasa Inggris dengan judul The Crescent Arises over the Banyan Tree. Buku yang diterbitkan oleh Gajah Mada University Press-Yogyakarta tahun 1983 sebanyak 263 halaman, ditulis dalam enam bab, umumnya mengungkapkan tentang muncul dan berkembangnya Muhammadiyah di Kotagede, dilengkapi pula dengan peta pulau Jawa, Yogyakarta dan Kotagede. Selain itu, diagram yang menggambarkan hubungan
kekeluargaan dan perkawinan antara pendiri Muhammadiyah di Kotagede dicantumkan pula
dalam buku ini. Lampiran berupa Tanah Bangunan Kotagede (1922), pekerjaan, pendapatan,dan komposisi pekerjaan (1972) disajikan pada bagian akhir buku ini.

Mitsuo Nakamura menjelaskan pula bahwa Kotagede memiliki berbagai keuntungan untuk penelitian perkembangan Muhamadiyah setempat. Secara etnis Kotagede merupakan kota Jawa yang murni, terletak di jantung peradaban Jawa. Kotagede muncul dalam sejarah
pertama kali pada pertengahan kedua abad ke–16 sebagai lokasi awal Keraton Mataram yang belakangan, salah satu kerajaan Islam paling awal di pedalaman Jawa tengah bagian selatan.

Keraton Mataram saat itu juga mewujudkan sinkretisasi halus unsur-unsur asli, Hindu–Budha, dan agama Islam dalam kehidupan Keratonnya.

Kedudukan Keraton Mataram berpindah keluar dari Kotagede pada awal abad ke-17. Kerajaan itu sendiri kemudian dipecah-pecah dan dipotong menjadi empat kerajaan
(Surakarta, Yogyakarta, Mangkunegaran, dan Pakualaman) karena intrik internal berkepanjangan dan campur tangan Belanda selama dua abad berikutnya. Tetapi Kotagede
bertahan dari semua kekacauan ini. Tetap mempertahankan identitasnya sebagai pusat kota
Jawa yang khusus sampai saat ini, sebagian besar karena segi agama dan ekonominya.

Selanjutnya Nakamura menambahkan, perkembangan yang menuju pada berdirinya Muhammadiyah di Kotagede terjadi pada saat dan lingkungan ini. Muhammadiyah
di Kotagede sejak saat itu berkembang pesat sampai sekarang.

Prestasi Muhammadiyah yang paling menonjol dapat dilihat pada bidang pendidikan, umum, dan kesejahteraan sosial (1972). Muhammadiyah telah memprakarsai banyak perubahan di dalam kepercayaan dan praktik keagamaan di kalangan orang Kotagede.
Di samping prestasi lokal, Muhammadiyah Kotagede memberikan sejumlah sumbangan bagi kemajuan kepentingan Islam dalam tingkat regional dan bahkan nasional. Di banyak daerah kepulauan Indonesia sekolah-sekolah Muhammadiyah atau sekolah-sekolah
Islam lainnya memperoleh sejumlah guru yang berasal dari kalangan Muhammadiyah Kotagede.
Sejumlah besar orang yang ahli termasuk dokter, insinyur, sarjana hukum, profesor dan dosen banyak di antaranya berasal dari keluarga Muhammadiyah Kotagede.

Muhammadiyah cabang Kotagede adalah salah satu yang paling aktif dan berpengaruh di dalam organisasi yang pusatnya terletak di Yogyakarta, yang memberikan bantuan langsung pada saat yang diperlukan.

Mitsuo Nakamura menerangkan tentang judul bukunya, yang ber-hubungan dengan konsep abangan dan santri. Proses Islamisasi di Kotagede sekarang ini hendaknya tidak dipandang melulu sebagai masalah perubahan di dalam orientasi ideologis golongan tertentu masyarakat setempat, yakni dari tradisionalisme ke modernisme di dalam golongan santri, tetapi lebih berupa masalah yang ada hubungannya dengan pandangan agama
seluruh penduduk setempat: makin bertambah besar orang-orang didalam kategori abangan telah berpindah dan sedang berpindah kearah kategori santri, menjadi semakin
benar di dalam berpikir dan beramal sebagai orang Islam. Karena itu, judul asli buku ini, “The Crescent Arises over the Banyan Tree” artinya unsur-unsur santri yang digambarkan dengan bulan sabit semakin muncul dari unsur-unsur abangan yang digambarkan
dengan pohon beringin, sebuah simbol mistik. Judul ini dimaksudkan hanya sebagai ringkasan jelas proses sejarah setempat tanpa mempunyai implikasi politik yang
mungkin timbul di kalangan orang-orang tertentu.

Anduk, Gendhing

Gendhing sebagai pengiring Bedhaya Semang, yang diciptakan secara khusus oleh Sultan Agung, sebagai penghormatan kepada Panembahan Senapati, raja pendahulu di Keraton Mataram.

Bedhaya Semang merupakan jenis tarian yang mengkisahkan percintaan
antara Panembahan Senapati dengan Kanjeng Ratu Kidul. Sehingga sebagai pengiring, Gendhing Anduk dimainkan sekali dalam setahun, pada saat jumenengan dalem (penobatan raja), atau wiyosan dalem (ulang tahun
raja).

Syair lagunya sarat berisi kata-kata cinta dan asmara, diawali dengan irama kendhangan Sekar Gadhung, dan selanjutnya diikuti dengan ditabuhnya gong, kenong, kemanak, dan ketipung.

AMM, Team Tadarus

Singkatan dari Team Tadarus Angkatan Muda Mesjid dan Mushalla.
AMM. Mempunyai misi membina dan mengembangkan Gerakan Dakwah Al Quran yang meliputi Membaca, Menulis dan Memahami Al Quran (M3A) bagi seluruh umat Islam dimanapun berada, dengan membawa misi inilah kegiatan-kegiatan Team Tadarus AMM dilaksanakan.

Yayasan Team Tadarus AMM beralamat di Kompleks TKA-TPA AMM Selakraman Kotagede
Yogyakarta.

Di samping itu tentu ada misi-misi khusus dari kegiatan yang dilaksanakan Gerakan Dakwah M3A, meliputi kegiatan rutin, seperti: pengelolaan TKA-TPA-TQA, kursus Tartil Al Quran, kursus bahasa Arab metode fasih, majelis ta’lim malam kamis, forum studi ‘Ulumul Quran’, penataran metodologi Iqra’ dan manajemen TKA-TPA-TQA, serta tempat studi banding para pengelola, ustadz dan santri TKA-TPA-TQA di seluruh Indonesia.

Melalui berbagai aktivitas keagamaan tersebut, menjadikannya berkembang menjadi forum rekreasi rohani (wisata religius).

Agung, Sultan

Merupakan Raja Besar Mataram yang terkenal akan ekspansi wilayah kekuasaan, sehingga mencapai beberapa wilayah diluar pulau Jawa.
Sultan Agung adalah salah satu putra Panembahan Senapati (lihat Senapati, Panembahan). Sultan Agung disebut demikian karena merupakan raja besar Mataram. Sultan Agung dengan nama lengkap Sultan Agung Anyakrakusuma menjadi Raja Mataram, ia adalah
cucu buyut Ki Ageng Giring (penguasa Gunung Kidul, lihat : Giring, Ki Ageng). Ki Ageng Giring, adalah sahabat Ki Ageng Mataram (lihat: Mataram, Ki Ageng).Putera Ki Ageng Mataram bernama Panembahan Senapati, memperisteri Rara Lembayung, puteri
dari Ki Ageng Giring. Dari pasangan suami istri inilah lahir anak, cucu Ki Ageng Giring, yang kelak naik tahta dan bergelar Sultan Agung Anyakrakusuma.

Pada masa kekuasaannya, Mataram mampu memperluas pengaruhnya dan mengalami puncak kejayaannya, meski mengalami kegagalan saat menyerbu Belanda di Batavia yang saat itu dipimpin oleh Gubernur Jenderal Jaan Pieterszoon Coen.

Banyak prestasi yang dicapai oleh Sultan Agung. Dalam bidang politik dia menerapkan sentralitas kekuasaan dan mewajibkan para bupati-nayaka untuk tinggal di kutha-negara,
serta memodifikasi sistem birokrasi pemerintahan yang canggih dengan membagi-bagi lebih
lanjut wilayah negaragung.

Sultan Agung juga mengembangkan budaya agraris dengan menyusun pranata mangsa yang digunakan untuk memperhitungkan waktu tanam. Selain itu dia juga menetapkan sistem kalender Jawa yang meramu penanggalan Çaka lama dengan tahun Hijriyah dari
Arab. Untuk yang terakhir ini menunjukkan perhatiannya pada upaya memadukan agama Islam dengan budaya asli Jawa yang banyak dipertentangkan sebelumnya.

Terlepas dari kebesarannya, Sultan Agung lebih banyak menghabiskan waktunya di pesanggrahan Kerta, dan kemudian memindahkan pusat kekuasaannya dari Kotagede
ke Plered. Artinya, pada masa Sultan Agung eksistensi Kotagede mulai surut.
Namun, sekalipun Kotagede kehilangan peran sebagai pusat pemerintahan, Pasar Gede di Kotagede tetap menjadi pusat perdagangan yang penting, bahkan sampai sekarang. Di sisi lain, dia juga tetap memelihara spiritualitas Kotagede yang berpusat di kompleks Mesjid Mataram dan makam raja-raja di Kotagede, walaupun dia menyiapkan juga kompleks
makam baru di Imogiri.

Melalui berbagai prestasi di dalam mengembangkan kekuasaannya ni membuat Keraton Mataram, di bawah kepemimpinan Sultan Agung mencapai zaman keemasannya. Hal ini ditunjukkan dengan berkembangnya wilayah kekuasaan sampai ke luar Jawa, di antaranya
sampai ke wilayah Sumatera (Palembang).

Saturday, June 6, 2009

Buldanul Khuri

Tokoh perbukuan, penerbitan dan disain grafis Indonesia. Lahir di Kotagede, 1965 dan menyelesaikan pendidikan SD hingga SMA, di lingkungan Muhammadiyah Kotagede. Lalu melanjutkan studi di Jurusan Desain Komunikasi Visual Sekolah Tinggi Seni Rupa Indonesia (STSRI),yang kemudian menjadi ISI Yogyakarta. Minatnya pada buku dipengaruhi oleh mentornya, Darwis Khudori yang menumbuhkan minatnya pada membaca, dan keluarganya yang memiliki percetakan kecil-kecilan yang dikelola kakak-kakaknya di kampung Selokraman. Setelah menyelesaikan studi, mendirikanbiro disain Aula Graphics Disain, sejalan dengan itu tahun 1992 mendirikan PT Bentang Intervisi Utama bersama ketiga temannya, yang bergerak di bidang dsain grafis, penerbitan,dan percetakan. Tahun 1994, Buldan memisahkan diri dan mengubarkan Yayasan Bentang Budaya, dengan mengkhususkan diri pada penerbitan buku.

Bentang Budaya akhirnya berkembang sebagai suat lembaga penerbitan yang memilih tema-temadi seputar seni, sastra, budaya dan filsafat. Dengan salah satu trend setternya, peneritan serial karya Kahlil Gibran yang cukup kuat baik secara tema isi, disain cover dan hasil pemasarannya. Salah satu sumbangan terbesar dari Buldanul dan Bentang adalah desain cover, dimana ia berhasil membuka cakrawala yang menyegarkan dengan menempatkan desain artistic sebagai bagan penting yang membuat buku menarik minat pembaca dan menciptakan citra khusus terhadap penerbit.

Brojosemito

Generasi ketiga dari keluarga Kalang yang tinggal di Kotagede, yang merupakan penerus dari Mertosetiko. Ia adalah orang pertama diangkat sebagai demang oleh Kraton Yogyakarta, sebuah gelar yang terus disandangnya hingga dihapus pada akhir abad ke-20.

Bong Supit Pak Darmo

Adalah sebuah legenda Bong Supit dari Kotagede yang telah buka Sejak Zaman Belanda, yang terletak di Jl. Pasarean 4 Kotagede. Salah satu ruangan di rumah itu yang selalu terlihat bersih itu berada di bagian selatan dan menghadap utara itu menjadi saksi bisu terjadinya pemotongan ribuan, bahkan puluhan ribu kulit manusia yang rata-rata berusia SD hingga SMP. Rumah itu adalah tempat kediaman Pak Darmo, bong supit atau tukang khitan yang namanya populer sejak masa penjajahan Belanda.

Namun, namanya kini tinggal kenangan. Sebab, ia telah meninggal dunia tahun 1997 karena faktor usia Dia sendiri kali terakhir mengkhitankan bocah pada tahun 1995. Kini, kepiawaiannya sebagai juru sunat itu diteruskan anak-anaknya. Pak Darmo sendiri lahir tahun 1905. Dia dikaruniai 15 anak, sembilan laki-laki, enam perempuan.

Pak Darmo menjadi legenda dunianya bong supit, karena pekerjaan itu telah dilakoni selama 76 tahun lebih. Awal Pak Darmo menjadi bong supit bermula ketika sebelum masa penjajahan Belanda, rumahnya menjadi kantor Palang Merah Indonesia (PMI). Waktu itu, tahun 1930. Otomatis, ia berkumpul dan bergaul dengan para mantri kesehatan. Hingga akhirnya, menjadi orang yang piawai menyunat. Dalam perjalanannya, Bong Supit Pak Darmo pernah menyunat tokoh-tokoh nasional, termasuk orang-orang penting di Jogja. Saat menjadi bong supit, Pak Darmo dan anak-anaknya mengedepankan ibadah dan aspek sosial.

Dalam pandangan Pak Darmo, menyunat merupakan pekerjaan mulia yang berarti mengislamkan orang. Saat itu, ia menggunakan alat gunting dalam menyunat. Namun, seiring perkembangan teknologi, alat-alat itu tidak dibutuhkan lagi. Kini, Bong Supit Pak Darmo mengoperasikan alat modern dalam menyunat. Alat yang digunakan untuk memotong tidak lagi menggunakan gunting, tapi sinar laser.

Penggunaan sinar laser terbukti mampu meminimalkan rasa sakit yang diderita pasien. Karena saat sinar tersebut dioperasikan, kulit tidak mengeluarkan darah. Hingga tahun 80-an, bocah yang disunat mencapai puluhan orang per hari. Karena waktu itu, patokan untuk menyunat menggunakan kalender Jawa. Tetapi, para orangtua sekarang menyunatkan anak-anaknya pada liburan sekolah. Karena itulah bocah yang disunat ketika sekolah tidak libur, tidak banyak. Jumlahnya 2-3 orang per hari. Namun, saat liburan sekolah, jumlahnya mencapai ratusan orang per hari.

Boekhandel SM Diwarno

Penerbitan tertua di Kotagede, yang berdiri sejak tahun 1920-an, terakhir memiliki toko buku di sebelah Barat Pasar Gede, tepatnya di Kampung Sayangan. Buku-buku yang diterbitkan dalam bahasa Jawa dan Melayu, dimana penggunaan aksara Jawa masih cukup luas digunakan. SM Diwarno juga menterjemahkan banyak buku dari teksbook berbahasa Belanda ke Dalam bahasa Jawa, misalnya buku Panoentoen Olahraga karangan FHA Claesen. Selain menerbitkan buku sendiri, juga menjadi agen dari penerbit dari Batavia, seperti Balai Pustaka.

Perkembangan usahanya yang baik, sehingga untuk wilayah pemasaran di Kta Yogyakarta, penerbit ini membuka cabang yang berkedudukan di Jl. Ngabean (sekarang Jl. KHA Dahlan). Di samping itu, sebagaimana trend yang terjadi pada saat itu, juga menerima order pembuatan stempel, baik untuk merek produk maupun identitas pribadi.

Buku-buku yang pernah diterbitkan antara lain:
Penoentoen Ngetik Mesin Toelis Nganggo 10 Dridji, Kang Njoekoepi (Sinaoe Tanpa Goeroe, karangane M. Soewardjo;
Serat ”Panglipoer” basa lan sastra Djawi, karangan KM SoesrosoemartoMantri (Goeroe);
Kawroeh Padvinder, katerangaken mawi 24 gambar saha potret;.
Paramasastra Welandi karya P. Darminta;
Babad Boewono karangan MS Dwidjosoemarto.

Friday, June 5, 2009

Baruklinting, Ki

Dalam cerita rakyat dipercaya bahwa Ki Bagus Baruklinting adalah naga yang berubah wujud menjadi tombak pusaka (Kiai Baruklinting). Realitasnya perkawinan Ki Ageng Mangir I dengan Rara Jalegong tentu melahirkan seorang bayi manusia pula (bukan ular naga). Ki Ageng Mangir Wanabaya I menurunkan Ki Ageng Mangir Wanabaya II. Mangir I juga mempunyai istri (selir), putri dari Demang Jalegong. Konon dari rahim Rara Jalegong ini lahir seorang anak yang berupa ular naga. Anak yang kelak terkenal dengan nama Ki Bagus Baruklinting ini mempunyai kesaktian yang luar biasa pada lidahnya sehingga lidahnya dibuat menjadi sebilah mata tombak oleh ayahnya sendiri dan diberi nama Kiai Baru.

Jadi, Ki Bagus Baruklinting adalah saudara tiri dari Mangir II dan paman dari Mangir III. Mangir III ini pula yang kelak hidupnya tidak pernah berpisah dengan tombak Kiai Baruklinting. Demikian, Babad Mangir menceritakan. Nama baru sendiri dalam dunia tosan aji (senjata logam) menjadi nama salah satu dhapurnalar begitu saja.

Misteri Ki Bagus Baruklinting sampai sekarang ini masih kontroversial. Sebagian orang meyakini bahwa dia adalah naga, tetapi sebagian percaya bahwa Ki Bagus Baruklinting adalah manusia biasa. Hanya saja karena ia lahir dari rahim seorang wanita yang sebenarnya tidak dinikah, maka dalam cerita babad ia digambarkan sebagai ular naga dan seolah-olah tidak diakui sebagai anak oleh Mangir I. Barangkali hal ini ditempuh penulis babad untuk tidak terlalu memberi efek negatif bagi dinasti Ki Ageng Mangir maupun Rara Jalegong sendiri. Kesaktian tombak Ki Baruklinting yang diceritakan demikian luar biasa ini barangkali sesungguhnya tidak bisa dilepaskan dari kisah hidup Ki Bagus Baruklinting sendiri. Dalam babad diceritakan bahwa tombak Kiai Baruklinting senantiasa disanding oleh Ki Ageng Mangir. Bahkan setiap Ki Ageng Mangir berdekatan dengan Pembayun tombak ini berkokok). Apa yang disuarakan tombak ini sebenarnya dapat dipandang sebagai simbol bahwa Ki Baruklinting memperingatkan agar Ki Ageng Mangir selalu berhati-hati terhadap Pembayun.
Tidak aneh kalau pada gilirannya bahwa tombak Kiai Baruklinting ini dibungkam dan dilumpuhkan oleh Pembayun dengan kembennya. Pelumpuhan itu dilakukan dengan membungkam bilah tombak tersebut dengan kemben milik Pembayun.

Banguntapa, Pangeran

Nama lain dari Kanjeng Susuhunan Pakubowono VI. Pada Kamis Legi 9 Sura 1751 Saka/1824 Masehi, dikisahkan ia berburu kijang ke hutan Krendawahono. Hingga sore hari, belum juga ada berita tentang keadaann sinuhunnya. Padahal seharian berada di dalam hutan yang dikenal wingit dan angker itu. Bahkan hingga malam harinya belum da kabar, hingga diberitakan hilang ditelan belantara Krendawahono. Kabar menyedihkan itu sampai juga ke pihak Belanda. Bahkan Residen saat itu, juga merasa kaget.

Di tengah hutan Krendawahono, terdapat sebuah batu besar. Di atas batu besar itulah Sinuhun Paku Buwono VI sedang duduk bersila. Di hadapan beliau, duduk bersila pula Pangeran Diponegoro. Di sebelah kanan Pangeran Diponegara, duduk Kyai Mojo. Sedang di sebelah kiri, duduk Raden Ajeng Sumirah.

Malam itu, Banguntapa sedang memberi petunjuk kepada Diponegoro, pamannya, tentang cara-cara mengusir penjajah Belanda. Rampung memberikan petunjuk, ia memberi berkah kepada Diponegoro, sebuah saka Keraton Surakarta berupa keris Kyai Sandanglawe. Kepada Raden Ajeng Sumirah, istri Diponegoro, ia memberi pelana kuda Kyai Sabukangin lengkap dengan cemeti Kyai Janur. Juga diserahkan tombak Kyai Tundungmungsuh. Selesai memberikan senjata itu, ia mengajak Diponegoro, Kyai Mojo dan Raden Ajeng Sumirah menuju sebelah timur, ke bawah pohon beringin putih. Di bawah pohon ini Sinuhun Bangutapa bersila lagi di hadapan ketiga priyagung yang juga khusyuk bersila.

Di tempat itu, ia menyerahkan lima batang anak panah bernama Kyai Sirwindo yang ditempatkan dalam kantung bernama Kyai Karumbo. Sinuhun Banguntapa menjelaskan, ketika akan menggunakan panah tersebut terlebih dulu diawali dengan mengucapkan santiswara: “Ingsun keplasake Kyai Sirwindo, nuncepo gundhule Walanda kang hambeg kumawoso.” Artinya : Kulepaskan Kyai Sirwindo, tusuklah kepala Belanda yang angkuh merasa berkuasa.”

Kemudian pasukan Diponegoro diberi nama Barisan Bulkiyo olehnya. Selesai pertemuan itu, mereka tidak segera pulang dan diteruskan dengan sarasehan semalam suntuk di bawah pohon beringin putih. Belanda tidak mengetahui pertemuan itu, karena memang sengaja disebar khabar Sinuhun Banguntapa tersesat di dalam hutan Krendawahono.

Bahoewinangun

Seorang pedagang permata yang khusus melayani kebutuhan kraton. Merupakan putra kelima dari Raden Ngabehi Djojoniman atau Raden Amaddalem Hanomtapsir I yang juga sebagai abdi dalem kraton. R.Ngt Bahoewinangun sering mendapat pesanan barang-barang permata, perhiasan dari emas dan perak, maka kurang lebih pada tahun 1918 putranya yang bernama Prawirohardjo mendirikan perusahaan perak dengan nama singkatan P.H.

Sebagai keturunan dari R.Ngt. Bahoewinangun, Prawirohardjo sangat maju dalam usahanya dan dia jugaselalu menghubungi keraton Yogyakarta. Pada masa-masa kejayaan serta modernisasi perusahaan perak Prawirohardjo sangat dikenal, baik di kalangan pemesan-pemesan dari kraton maupun dari luar negeri terutama dari Nederland, sebab ia benar-benar dapat menjaga mutu seni maupun kwalitet bahan. Sejak zaman Jepang Prawirohardjo terpaksa menghentikan usahanya, karena dipandang tidak mungkin lagi untuk mempertahankan kehidupan perusahaannya seperti sebelum zaman Jepang. Terutama untuk mempertahankan kwalitet bahan. Dari putera-puteranya sendiri belum ada yang mendirikan perusahaan perak karena belum dewasa, dan yang melanjutkan adalah kemenakan-kemenakannya.

Thursday, May 7, 2009

Wirog

Kepanjangannya adalah Warga Islam Rukun Olehe Sesrawungan. Merupakan gerakan social di dalam komunitas Kampung Selokraman dan Jayapranan pada tahun 1986-an. Melakukan banyak aktivitas di bidang olahraga dan musik, dengan motor penggerak Solahudin.

Monday, May 4, 2009

YJajasan Pakarjan Ngayogyakarta

Hubungan penguasa Belanda dengan para bangsawan atau raja-raja di Yogyakarta menyebabkan dikenalnya barang-barang kerajinan perak Kotagede. Barang-barang ini sering dipertontonkan dan diberikan sebagai kenang-kenangan pada peristiwa-peristiwa tertentu. Kepada para tamu kraton atau penguasa-penguasa Belanda. Kira-kira setelah Perang Dunia I, pemerintah Hindia Belanda mulai memperhatikan kerajinan rakyat ini, dan berusaha melindungi serta membantunya, supaya hasilnya lebih maju. Dari bangsa Belanda yang membantu modernisasi kerajinan perak antara lain: J.E. Jasper (Gubernur Jogjakarta tahun 1928-1930); GesselerVerschuur (Gubernur Jogjakarta tahun 1931), Ir Sitsen, Ir. J. Moens, Ir. Gotz van der Vet, Ir. Resink, dan dari bangsa Indonesia: Ir. Soerachman, Ir. Soepardi, R.J. Katamsi, Warindijo serta dari kaum bangsawan antara lain Gusti Tedjokoesumo, G.P.H. Soerjaningprang. Tokoh-tokoh ini telah bersama berusaha memajukan Jajasan Pakaryan NGayogyakarta yang berdiri pada tahun 1929.

Masyarakat Kotagede secara langsung menjadi pendukung kerajinan perak Jogjakarta. Yang telah hidup dan berkembang dan kemajuan kerajinan perak, tetapi jika mereka ada hubungan dengan luar, pasti kerajinan perak tidak dapat berkembang, sebab masyarakat Kotagede masih ipengaruhi oleh tradisi-tradisi lama yang ditawarkan oleh nenek moyangnya. Tercantumnya nama-nama bangsa Belanda dalam modernisasi kerajinan perak tersebut diatas, menunjukkan bahwa bangsa Belanda merupakan pendukung baru dari kerajinan perak Kotagede. Penggemar kerajinan perak bukan dari bangsa Belanda yang tinggal di Yogyakarta saja, tetapi juga yang berada dinegara Belandapun ada. Hal ini terjadi karena sering adanya pergantian penguasa-penguasa Belanda dilembaga-lembaga pemerintahan, atau dipabrik-pabrik, misalnya pabrik-pabrik gula yang banyak jumlahnya di Yogyakarta dan sekitarnya.

Di samping itu, raja-raja Yogyakarta selalu memesan barang-barang kerajinan perak Kotagede sebagai tanda kenang-kenangan yang diperuntukkan para pembesar Belanda yang akan pulang ke negerinya, atau pada hari-hari besar, dan peristiwa-peristiwa penting, misalnya upacara pertunjukkan, perkawinan, dan sebagainya. Sudah barang tentu, barang-barang kerajinan perak yang dibuat untuk kenang-kenangan diambilkan yang biasa dipergunakan oleh bangsa Belanda, misalnya eetstel theestel, rookstel dan sebagainya. Barang-barang kerajinan perak yang dibutuhkan oleh bangsa Belanda mempunyai corak dan bentuk yang berbeda dengan barang-barang yang biasa dikerjakan oleh para ahli kerajinan perak di Kotagede. Jika sebelumnya hanya di kerjakan barang-barang perhiasan bermotif tradisional dari kraton, setelah ada permintaan dari bangsa Belanda, mulai dikenal alat-alat rumah tangga Eropa dengan motif-motif baru.

Pada waktu perkawinan ratu Juliana telah dikirim tanda kenang-kenangan berupa barang-barang kerajinan perak Kotagede antara lain oleh Sultan Hamengku Buwana ke IX, Paku Alam VIII, Persatuan wanita Belanda di Indonesia, dan pabrik minyak Sungai Gerong. Barang-barang yang dikirim tersebut antara lain berupa dua dosin eetservies, dengan motif campuran sebagai hasil modernisasi, yaitu motif-motif di Indonesia dengan Eropa misalnya dengan motif ukiran yang mengambil ornament candi Borobudur dan sebagainya. Barang-barang ini telah dibuat oleh perusahaan perak Prawirohardjo di Kotagede.

Yayasan Pakaryan Ngayogyakarta

Yayasan yang didirikan oleh para pengrajin perak di Yogyakarta pada tahun 1929, yang pada zaman itu disebut dengan Jajasan Pakarjan Ngajogjokarto. Yayasan tersebut didirikan dalam rangka mengadakan modernisasi kerajinan perak di bidang motif, dengan tujuan utamanya adalah untuk memajukan seni kerajinan yang terdapat di Yogyakarta.

Tugas yayasan tersebut adalah memberikan (1) penerangan teknik kepada perusahaan-perusahaan yang ingin memperbaiki pekerjaannya; (2) menun-jukkan hasil pekerjaan mereka yang telah dikoreksi, dan mengusahakan pameran yang lebih baik, baik itu di dalam maupun di luar negeri; (3) memberi uang muka kepada mereka yang barang produksinya belum terjual; (4) menolong meng-usahakan material yang dibutuhkan dan yang lebih baik; (5) memperkenalkan hasil-hasil karya yang baik dan turut memberi garansi; (6) menganjurkan adanya kreasi baru dengan memberi contoh-contoh yang dimodernisasikan; (7) menganjurkan kejujuran kepada para pengusaha, agar pekerjaannya bermutu dan pembeli tidak merasa tertipu.

Karena usaha-usaha Yayasan Pakar-yan Ngayogyakarta tersebut, barang produksi yang sebelum tahun 1929 belum terkenal sampai ke luar negeri, akhirnya dapat terkenal dan mendapat pasanan yang baik. Namun karena adanya pendudukan Jepang, Yayasan Pakaryan Ngayogyakarta akhirnya dibubarkan pada tahun 1942.

Zubair Muchsin, Rumah

Rumah tradisional Kotagede, yang memiliki nilai arsitektur Jawa yang unik. Rumah ini didirikan oleh H. Mukmin pada tahun 1865 M. H. Mukmin adalah seorang pedagang kain dan lawe serta agen mori “cap sen”. Setelah diwariskan kepada putranya H. Zubair Muchsin, usahanya terus berkembang dan merupakan salah satu yang terbesar di antara 43 pedagang sejenis di Kalurahan Sayangan. Pada waktu didiami H. Mukmin rumah tersebut juga digunakan sebagai tempat pelayanan usaha dan kegiatan keagamaan. Akan tetapi, setelah diwariskan kepada H. Zubair Muchsin sampai saat ini hanya digunakan sebagai tempat tinggal dan aktivitas keagamaan Islam.

Terletak di Dusun Buharen RT 33/RW 8, Kelurahan Purbayan, Kecamatan Kotagede, Kodya Yogyakarta. Berdiri di atas tanah seluas 1072m2, dikelilingi pagar tembok setinggi 2,25 m. terdapat dua buah pintu masuk ke halaman. Pintu sebelah selatan berukuran lebar 1,62 m dan tinggi 2 m. Sedangkan pintu utara berukuran lebar 1 m dan tinggi 1,72m.

Kompleks ini mempunyai beberapa bangunan yaitu langgar, pendapa, pringgitan, dalem, gandok kiwo dan gandok tengen, dapur dan bangunan pelengkap lainnya.

Zubair Muchsin

Seorang tokoh Muhammadiyah Kotagede. Zubair Muchsin adalah putra dari H. Muchsin, seorang pedagang kaya Kotagede. H. Muchsin bersaudara dengan H. Masyhudi, keduanya adalah putra H. Mukmin. Kekayaan ayahnya, H. Muchsin digunakan untuk membiayai pendidikan Zubair di Kairo, Mesir. Pada saat itu, ia bersama-sama dengan M. Rasjidi belajar di Kairo. Selain Zubair, saudaranya bernama Djalal Muchsin juga mengenyam pendidikan di Kairo, Mesir.

Ziarah Kubur Panembahan Senapati

Diartikan menabur bunga (sekar) ke makam Panembahan Senapati di Pasareyan Kotagede. Biasanya dilakukan pada bulan ruwah (yang berarti arwah), sebagai bagian dari tradisi untuk membersihkan diri menjelang bulan puasa (bulan suci Ramadhan). Menurut kepercayaan Jawa, orang yang telah meninggal, pada bulan ruwah dating untuk menengok familinya yang masih hidup. Pada saat nyekar bunga yang biasa ditaburkan ke makam adalah bunga mawar, kenanga, melati dan kanthil.

Pasareyan Kotagede sebagai tempat persemayaman Panembahan Senapati menjadi tempat ziarah bagi masyarakat luas, baik dari Yogyakarta maupun dari daerah lain. Para peziarah harus mengenakan pakaian khusus dalam menjalankan ritual di pasareyan Kotagede. Pakaian yang dikenakan untuk ziarah ke makam sesuai dengan peraturan keraton, yaitu bagi peziarah khusus wanita diwajibkan mengenakan kain, kemben, tanpa baju dan sanggul gelung tekuk. Sedangkan bagi peziarah khusus pria mengenakan kain, ikat kepala blangkon, dan baju pranakan atau tidak mengenakan baju (telanjang dada).

Asyhari Marzuki, Kh

Pengasuh Ponpes Nurul Ummah, lahir di Giriloyo, Imogiri, Bantul, 10 November 1942.